Menahan Diri
Panas terik matahari menyengat hingga ke seluruh tubuhku. Aku berjalan di trotoar sendirian sambil menenteng sebotol minuman dan beberapa bawaan serta tas di punggungku. Aku berhenti, menunggu angkutan umum, kemudian mataku tertuju pada jejeran minuman yang tampak segar. Aku mulai membayangkan betapa nikmatnya apabila minuman itu membasahi tenggorokanku. Namun teringat uang yang kupunya saat ini terbatas, tepatnya hanya cukup untuk membayar ongkos pulang. Bagaimana jika aku membeli minuman dan pulang berjalan kaki, ah tidak! Cuaca sepanas ini akan membuat aku membutuhkan minuman lagi nanti belum lagi akan kelaparan di tengah perjalanan. Lagipula aku masih punya sebotol air mineral. Aku harus bisa menahan diri. Minuman itu bisa kubeli lain hari ketika memiliki uang lebih. Aku terus merapalkan doa agar angkutan umum yang kutunggu segera datang dan membawaku pulang ke rumah.